Hasil pekerjaan tes Iranian Geometry Olympiad yang dilangsungkan pada tanggal 6 September 2018 telah diperiksa oleh para korektor lokal Indonesia. Untuk memastikan keakuratan pengoreksian satu soal diperiksa oleh dua orang korektor. Jika ada ketidaksesuaian nilai diantara kedua korektor maka kedua korektor akan mendiskusikannya sampai mereka mencapai kesepakatan tentang nilai yang diberikan.

UPDATE: TAHUN INI HANYA NILAI 4 PESERTA TERTINGGI (masing-masing level) YANG DIKIRIMKAN (kecuali ada nilai kembar)

 

Elementary
Nomor Peserta Nama Level 1 2 3 4 5 Total
068 Axel Giovanni Hartanto Elementary 8 8 8 0 0 24
071 Jerome Jodie Harianto Elementary 8 8 8 0 0 24
076 Darren Darwis Tanuwijaya Elementary 8 8 8 0 0 24
072 Fransiska Aurelia Giovanny Susanto Elementary 2 8 8 0 0 18
074 Luthfi Bima Putra Elementary 2 8 8 0 0 18
061 Muhammad Ilham Alfarisi Elementary 8 8 0 0 0 16
070 Jeanice Eliana Setyono Elementary 8 0 8 0 0 16
075 Azfa Radhiyya Hakim Elementary 8 0 8 0 0 16
066 Feilin Liangga Putri Elementary 8 1 0 1 0 10
057 Raihakim Hidajat Elementary 8 0 0 0 0 8
060 Amara Khairunnisa Dinata Elementary 8 0 0 0 0 8
062 Yedija Nicholas Kurniawidi Elementary 8 0 0 0 0 8
063 Nisrina Fathiyya Nugraha Elementary 8 0 0 0 0 8
064 Radianca Anthea Aurina Tofani Elementary 8 0 0 0 0 8
069 Sandy Kristian Waluyo Elementary 0 0 8 0 0 8
067 JOSEPH ARTHUR KOO Elementary 2 0 0 0 0 2
059 Cynta Dwiapsari Kh Elementary 0 1 0 0 0 1
054 Alvaro Vincent Wijaya Elementary 0 0 0 0 0 0
055 Muhammad Daffa Elementary 0 0 0 0 0 0
058 Muhammad Hamiz Ghani Ayusha Elementary 0 0 0 0 0 0
065 Muhammad Farhan Arsal Elementary 0 0 0 0 0 0
077 MUHAMMAD IQBAL RASYAD Elementary 0 0 0 0 0 0
INTERMEDIATE
Nomor Peserta Nama Level 1 2 3 4 5 Total
034 Justin Adrian Halim Intermediate 8 8 8 8 8 40
048 Farrel Dwireswara Salim Intermediate 8 8 8 3 8 35
031 Valentio Iverson Intermediate 8 8 8 8 0 32
033 Timothy Intermediate 8 7 8 8 0 31
028 Maximilliano Utomo Quok Intermediate 8 8 7 0 4 27
032 Ferdinand Halim Santoso Intermediate 8 8 8 0 0 24
047 Muhammad Rafi Adzikra Intermediate 8 8 8 0 0 24
049 Febrian Dwi Kimhan Intermediate 8 8 8 0 0 24
030 Daffa Al Fathan Zaki Intermediate 8 8 2 0 0 18
027 Shielda Kamilia Hidajat Intermediate 8 8 0 0 0 16
035 Edgar Sulaeman Intermediate 0 8 8 0 0 16
037 Samuel Intermediate 8 8 0 0 0 16
046 Michelle Chrisalyn Djunaidi Intermediate 8 8 0 0 0 16
052 Fadhlannafis Khawarizmi Kesumajana Intermediate 8 0 0 5 0 13
026 Joseph Gunawan Intermediate 8 4 0 0 0 12
051 Zakaa Aidan ahmad Intermediate 8 0 0 0 0 8
036 Oey Joshua Jodrian Intermediate 1 4 0 1 0 6
050 Muhamad Farhan Syakir Intermediate 6 0 0 0 0 6
044 Khansa Aqila .A Intermediate 4 0 0 0 0 4
040 Muhammad Fadli Fauzi Sileuw Intermediate 3 0 0 0 0 3
039 gibral anugrah Intermediate 0 0 0 0 0 0
041 Hibban Wilaksana Khairan Intermediate 0 0 0 0 0 0
042 Faishal afif abdur rafi Intermediate 0 0 0 0 0 0
043 Rafie Novianto S Intermediate 0 0 0 0 0 0
045 Rahmi Nur Azizah Intermediate 0 0 0 0 0 0
ADVANCED
No Nama Lengkap Level IGO 1 2 3 4 5 Total
001 AARON ALVARADO KRISTANTO JULISTIONO Advanced 8 8 8 0 0 24
005 Jonathan Christian Nitisastro Advanced 8 8 8 0 0 24
019 kinantan arya bagaspati Advanced 8 8 8 0 0 24
012 Valentino Dante Tjowasi Advanced 8 6 8 1 0 23
014 DICK JESSEN WILLIAM Advanced 8 7 2 1 0 18
015 Alfian Edgar Tjandra Advanced 8 8 1 1 0 18
002 Azzam Labib Hakim Advanced 8 8 1 0 0 17
003 Rivaldo Billy Sebastian Advanced 8 8 0 1 0 17
004 Ubaidillah Ariq Prathama Advanced 8 8 1 0 0 17
006 Clifton Felix Advanced 8 8 1 0 0 17
009 Muhammad Fahmi Irfan Advanced 8 8 1 0 0 17
010 Nicholas Russell Saerang Advanced 8 8 1 0 0 17
011 I Gede Arya Raditya Parameswara Advanced 8 8 1 0 0 17
013 Anthony Advanced 8 8 1 0 0 17
017 Ignatius Kent Hastu Parahita Advanced 8 8 1 0 0 17
018 irfan urane azis Advanced 8 8 1 0 0 17
022 Audrey Felicio Anwar Advanced 8 8 1 0 0 17
007 Maritza Andreanne Rafa Ayusha Advanced 8 8 0 0 0 16
020 Akeyla Pradia Naufal Advanced 8 8 0 0 0 16
021 Sulaiman Advanced 8 8 0 0 0 16
025 Muhammad Alif Darmamulia Advanced 8 6 0 0 0 14
008 Ahmad Romy Zahran Advanced 0 8 1 0 0 9
016 Grace Kurniawan Advanced 0 1 1 0 0 2
024 Machffud Tra Harana Vova Advanced 2 0 0 0 0 2
023 Muhammad Dzaky Wajdi H S Advanced 0 0 1 0 0 1
FREE
081 Farras Mohammad Hibban Faddila Free 8 8 8 1 8 33
080 Bimo Adityarahman Wiraputra Free 8 8 6 0 0 22
079 Reyhan Puji Putranto Free 0 0 0 0 0 0
082 Genta Maulana Mustofa Free 0 0 0 0 0 0

Tingkatan Dalam IGO

  • Level Elementary (Kelas 7 dan 8)

  • Level Intermediate (Kelas 9 dam 10)

  • Level Advanced (Kelas 11 dan 12)

  • Level Free (Umum)

Lima berkas dengan nilai terbaik untuk masing-masing level akan dikirimkan ke Iran dan dipertandingkan dengan nilai dari semua negara peserta untuk menentukan siapa yang dapat medali emas, perak atau perunggu.

 

 

 

Oleh: Gian Cordana Sanjaya

Dulu, ketika saya masih SMP, saya hampir tidak tau apa-apa tentang lomba yang namanya IMO. Ya, yang saya pernah ketahui hanyalah Indonesia sampai saat itu hanya sekali dapat emas di tahun 2013 dan isu bahwa kalau menulis 2 solusi berbeda untuk satu soal, maka dari dua solusi tersebut diambil yang nilainya lebih kecil.

Nah, perjalanan saya di olimpiade matematika SMA dimulai sejak OSN SMA tahun 2015, dan saya ikut ketika masih SMP. Sejak OSK, tipe soal yang diberikan berbeda dengan jenjang SD maupun SMP. Bahkan penulisan solusi uraian pun, sangat berbeda dengan jenjang sebelumnya. Kita harus menuliskan bukti dari hampir setiap hal yang kita temukan, selain beberapa teorema yang diketahui secara umum, jadi tidak boleh hanya berdasarkan pengamatan saja. Tentu saja karena masih SMP saat itu, saya cukup kewalahan ketika mengerjakan soal uraian OSP dan OSN. Namun, atas berkat dari Tuhan yang Maha Esa, saya masih mendapatkan medali perunggu, meskipun sebenarnya perunggu ke 10, dari 15 medali perunggu.

Meskipun begitu, OSN bukan akhir dari segalanya, dan disini maksud saya adalah masih ada lanjutannya. Para medalis OSN Matematika yang totalnya 30 orang dipanggil untuk ikut seleksi menuju IMO tahun berikutnya, dalam 4 tahap. Di tahap 1, saya belajar lumayan banyak materi baru dan sejujurnya, saya sangat terbantu oleh pelatnas ini. Dengan jauh berkembangnya ilmu saya ketika di tahap 1 ini, saya bisa mengerjakan soal tes tahap 1 dengan baik dan menjadi satu dari 15 peserta yang lolos tahap 2.

Selanjutnya, di tahap 2, selain 15 orang tersebut, ada veteran tahun sebelumnya yang bergabung juga. Persaingan semakin ketat dan materi serta soal tes yang diberikan juga jauh lebih susah. Bahkan, di tahap ini dan tahap 3, ada tes yang bobotnya lebih besar dari biasa. Saya pun belajar dengan lebih baik agar bisa lolos sampai ke IMO 2016. Meskipun saya sedikit kewalahan mengerjakan soal tesnya, saya dapat lolos sampai ke IMO 2016. Kenyataannya, di tahap 3, soal simulasi justru seakan menjadi penolong saya ketika hasil tes saya kurang baik, dan saya sendiri cukup kaget ketika dinyatakan lolos. Di tahap 4, tidak ada seleksi lagi, hanya pembinaan menjelang IMO. Materi dan latihan yang diberikan levelnya setara soal IMO, sehingga saya terkadang kesulitan menyelesaikannya. Namun, saya memperoleh ilmu baru lagi berkat pembinaan sehingga saya siap mengikuti IMO 2016.

Sebenarnya, saat IMO, kami tidak hanya mengerjakan soal, tetapi kami juga dapat acara jalan-jalan ke berbagai tempat bersejarah di negara tersebut. Ekskursi ini dilaksanakan setelah tes, sehingga kami bisa mengalihan pikiran kita dari soal-soal tes. Selain itu, kami bisa berkenalan dengan peserta IMO dari negara lain juga. Ketika saya mengerjakan soal tes IMO, saya sendiri seperti merasakan hal yang berbeda dibandingkan ketika latihan ataupun tes selama pelatnas. Saya sendiri hanya berharap mendapatkan medali perunggu ketika itu, karena soal yang diberikan sangat susah. Namun, puji syukur, saya berhasil membawa pulang medali perunggu untuk IMO 2016.

 

Perjalanan saya belum berakhir di situ, karena saya dipanggil lagi ke tahap 2 tahun berikutnga. Sebagai veteran, maka di pelatnas tahun 2017, poin saya dipotong 15%. Potongan tersebut cukup berat bagi saya, apalagi kemampuan geometri saya ketika itu masih buruk. Namun, saat itu juga saya benar-benar senang dengan bidang aljabar. Bidang ini pula yang membantu saya lolos sampai kembali ketika IMO 2017 ketika kemampuan geometri saya termasuk salah satu yang paling rendah di antara anak-anak se-pelatnas; faktanya ada satu soal di tes tahap 3 dimana dari 11 peserta pelatnas, 10 orang dapat menyelesaikannya dan 1 orang tidak dapat. Bisa ditebak siapa yang gagal menyelesaikannya.

Ketika IMO 2017, saya memasang target untuk mendapat minimal perak agar perolehan saya meningkat dari tahun sebelumnya. Meskipun kemampuan saya di geometri masih kurang ketika itu, saya masih beruntung dapat menyelesaikan satu soal geometri yang diberikan. Kemampuan aljabar saya juga sangat membantu saya sehingga dapat menyelesaikan soal nomor 2 di hari pertama, sehingga saya berhasil mencapai target saya, yaitu medali perak. Selain pengalaman ketika mengerjakan soal, IMO 2017 juga berkesan bagi saya karena acara ekskursi yang kami lakukan sangat menarik. Tahun itu, saya juga dapat berkenalan dengan lumayan banyak peserta dari berbagai negara.

 

Di tahun terakhir saya mengikuti IMO, yaitu tahun 2018, saya lebih banyak berusaha meningkatkan kemampuan saya di bidang geometri, dan secara umum mencoba meningkatkan kemampuan saya secara keseluruhan. Ketika saya mendengar bahwa tahun ini Indonesia mengikuti RMM untuk pertama kalinya dan saya dipilih sebagai salah satu peserta, saya cukup senang karena dengan demikian saya dapat berlatih dengan lebih keras untuk meratakan kemampuan saya di seluruh bidang. Karena negara peserta RMM berasal dari negara-negara yang kuat di IMO, kami hanya bisa berharap yang terbaik. Setelah mendapatkan medali perunggu di RMM, saya menjadi termotivasi saat pelatnas IMO 2018, dan berkat pelatihan selama RMM pula, saya dapat mengerjakan tes dengan baik selama tahap 2 dan tahap 3 dengan baik, dan saya terpilih lagi menjadi anggota tim Indonesia untuk IMO 2018, dengan kemampuan yang sudah cukup baik di masing-masing bidang, sehingga saya yakin saya dapat mengerjakan 4 dari 6 soal ketika IMO.

Saat tes IMO berlangsung, tidak seperti tahun-tahun biasanya, saya tidak terlalu tegang ketika melihat soal. Syukurlah, saya bisa mengerjakan soal dengan lancar dan menyelesaikan soal pertama dan kedua di masing-masing hari. Namun, saya mendapat kejutan besar ketika diberitahu bahwa saya mendapatkan poin 3 di soal nomor 3. Saya sudah sangat senang karena dengan poin tersebut, peluang saya mendapatkan emas meningkat. Setelah pulang dari ekskursi hari kedua, kami sempat mencoba mengecek web IMO untuk melihat perolehan kami di IMO 2018. Setelah saya melihat, saya sangat bahagia sampai ingin menangis. Berkat bimbingan dari para dosen dan asisten pembina, dukungan dan doa dari berbagai pihak, terutama pihak orang tua dan sekolah, serta atas berkat dan rahmat Tuhan yang Maha Esa, tim Indonesia berhasil mencapai peringkat 10 dan saya berhasil mendapatkan medali emas.

Pencapaian tim Indonesia tahun ini memang merupakan sesuatu yang dapat kami banggakan dan merupakan perolehan yang tidak kami sangka, namun saya yakin tahun-tahun berikutnya Indonesia akan konsisten berada di peringkat atas untuk IMO, dan banyak medali emas yang akan disumbangkan ke Indonesia. Banyak bibit unggul yang siap untuk memecahkan rekor-rekor baru tim Indonesia. Untuk itu, saya berharap untuk adik-adik yang mengikuti OSN agar serius dalam belajar dan mengerjakan soal. Bagi yang mendapat medali OSN, kalian patut berbangga, tapi ingat bahwa pencapaian kalian tidak akan mungkin kalian raih tanpa dukungan dari berbagai pihak, dan pelatnas bisa menjadi kejutan yang memutarbalikkan hasil kalian. Belajarlah dengan baik selama pelatnas, jangan menyerah, dan tidak lupa berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa untuk mencapai hasil sebaik mungkin.

Terakhir, saya akan membagikan sedikit tips untuk mendapatkan poin yang cukup besar. soal nomor 3 dan 6 di IMO. Soal-soal tersebut umumnya memiliki cara penyelesaian yang tidak terlalu umum. Jadi, cobalah lebih kreatif dalam mencari fakta-fakta yang bisa membantu menyelesaikan soal. Jika ada fakta yang dirasa bagus, coba buktikan dan tulis dalam lembar jawaban. Sebenarnya, soal nomor 3 tahun 2018 adalah soal dengan jawaban ya atau tidak. Saya menjawab ya, namun ternyata jawaban yang benar adalah tidak. 3 poin itu saya raih dari menulis sesuatu yang ternyata sangat sesuai dengan solusi dan dapat dilanjutkan untuk membuktikan bahwa jawabannya tidak. Saya bahkan tidak tahu bahwa apa yang saya tulis itu ternyata merupakan salah satu ide utama penyelesaian nomor 3 (mungkin karena saya bersikeras menjawab ya). Namun, saya tetap menuliskan fakta tersebut di lembar jawaban beserta buktinya, karena menurut saya waktu itu, siapa tau jawaban yang benar adalah tidak dan fakta tersebut membantu.

Prestasi TOMI
Dalam 4 Tahun Terakhir

IMO 2017, Brazil

  1. Gian Cordana Sanjaya, Perak
  2. Bimo Adityarahman Wiraputra, Perak
  3. Otto Alexander Sutianto, Perunggu
  4. Timothy Jacob Wahyudi, Perunggu
  5. Kinantan Arya Bagaspati, Perunggu
  6. Farras Hibban Faddila, Honorable Mention

IMO 2016, Hong Kong

  1. Timothy Jacob Wahyudi, Perak
  2. Erlang Wiratama Surya, Perak
  3. Rezky Arizaputra, Perak
  4. Gian Cordana Sanjaya, Perunggu
  5. Henry Jayakusuma, Perunggu
  6. Stevans Christian, Perunggu

IMO 2015, Chiang Mai, Thailand

  1. Rezky Arizaputra, Perak
  2. Adi Suryanata Herwana, Perak
  3. Herbert Ilhan Tanujaya, Perunggu
  4. Erlang Wiratama Surya, Perunggu
  5. Henry Jayakusuma, Perunggu
  6. Jonathan Mulyawan Woenardi, Perunggu

IMO 2014, Cape Town, Afrika Selatan

  1. Gede Bagus Bayu Pentium, Perak
  2. Jonathan Mulyawan Woenardi, Perak
  3. Reza Wahyu Kumara, Perunggu
  4. Fransisca Susan, Perunggu
  5. Herbert Ilhan Tanujaya, Perunggu
  6. Kevin Christian Wibisono, Honorable Mention

Selayang Pandang
Tim Olimpiade Matematika Indonesia

TOMI IN IMO

  • Telah mengikuti IMO sejak tahun 1988.
  • Satu-satunya emas yang didapat adalah atas nama Stephen Sanjaya tahun 2013.
  • Perak pertama diperoleh tahun 2001. Sejak 2007 sampai sekarang (kecuali tahun 2009) TOMI selalu mendapat medali perak.
  • Perunggu pertama diperoleh tahun 1995. Sejak tahun 2000, TOMI selalu mendapatkan medali perunggu (atau lebih baik).

Hall of Fame

  • Stephen Sanjaya, emas IMO 2013
  • Rezky Arizaputra, 2 perak, IMO 2015 dan 2016
  • Ahmad Zaky, 1 perak IMO 2010, 2 perunggu IMO 2011 dan 2012
  • Fransisca Susan, 1 perak IMO 2013, 2 perunggu IMO 2012 dan 2014
  • Stefanus Lie, 1 perak IMO 2012, 2 perunggu IMO 2010 dan 2011

Get in touch

Jika anda mempunyai hal yang perlu disampaikan kepada Tim Olimpiade Matematika Indonesia, silakan isi formulir di bawah ini.